![]() |
| Gambar dari Google |
Penulis : Ibnu Taimiyah
Penerjemah : Ust. Nawi
Editor : Hikam Fajri
الوجه الثاني
…
الثاني: أن يشهد ذنوبه، وأن الله إنما سلطهم عليه بذنبه، كما قال تعالى: {وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} ٨ فإذا شهد العبد أن جميع ما يناله من المكروه فسببه ذنوبه، اشتغل بالتوبة والاستغفار من الذنوب التي سلطهم عليه، عن ذمهم ولومهم والوقيعة فيهم
Kedua : Hendaknya seseorang menyaksikqn dosa-dosanya, dan bahwa Allah telah menguasakan mereka atasnya dengan sebab dosa-dosanya, sebagaimana Ta’ala berfirman :
“وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِير”
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syura : 30).
Adapun jika seorang hamba menyaksikan bahwa setiap apa yang dia peroleh berupa perkara yang tidak disukai penyebabnya adalah dosa-dosanya maka dia akan menyibukkan diri dengan taubat, istighfar (mohon ampunan) dari dosa-dosanya yang Dia telah menguasakan mereka atasnya, dari kecaman mereka, celaannya, dan fitnah/umpat yang ada pada mereka,
وإذا رأيت العبد يقع في الناس إذا آذوه ولا يرجع إلى نفسه باللوم والاستغفار فاعلم أن مصيبته مصيبة حقيقية، وإذا تاب واستغفر، وقال: هذا بذنوبي، صارت في حقه نعمة.
Dan jika kamu melihat seorang hamba mencela manusia jika mereka menyakitinya dan itu tidak kembali kepada jiwanya dengan celaan itu dan istighgar maka ketahuilah bahwa musibahnya adalah musibah yang sebenarnya, tapi jika dia bertaubat dan istighfar, dan dia berkata : ini adalah sebab dosa-dosaku, maka itu akan menjadi kenikmatan pada dirinya
قال علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – كلمة من جواهر الكلام: لا يرجونّ عبدٌ إلا ربه، ولا يخافنّ عبدٌ إلا ذنبه وروي عنه وعن غيره: ما نزل بلاء إلا بذنب، ولا رفع إلا بتوبة.
Telah berkata ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan salah satu kalimat mutiara :
“لا يرجونّ عبدٌ إلا ربه، ولا يخافنّ عبدٌ إلا ذنبه”
“Seungguhnya tidaklah seorang hamba mengharap melainkan kepada Tuhannya, dan tidaklah seorang hamba takut melainkan dosanya”.
Dan telah diriwayatkan darinya dan dari selainnya :
“ما نزل بلاء إلا بذنب، ولا رفع إلا بتوبة”
“Tidaklah bencana itu turun melainkan dengan sebab dosa, dan tidaklah dia terangkat melainkan dengan taubat”.
الثالث: أن يشهد العبد حسن الثواب الذي وعده الله لمن عفى وصبر، كما قال تعالى: {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ}. ولما كان الناس عند مقابلة الأذى ثلاثة أقسام: ظالم يأخذ فوق حقه، ومقتصد يأخذ بقدر حقه، ومحسن يعفو ويترك حقه.
Ketiga : Hendaknya seorang hamba menyaksikan baiknya ganjaran yang Allah janjikan bagi orang yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana Ta’ala berfirman : “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim.” (asy Syura : 40). Adapun manusia ketika menghadapi ganguan maka ada tiga bagian : Orang yang zhalim akan mengambil di atas haknya, orang yang muqtashid (pertengahan) akan mengambil sekadar haknya, orang yang muhsin akan mengambil dengan memaafkan dan meninggalkan haknya.
ذكر الأقسام الثلاثة في هذه الآية فأولها للمقتصدين، ووسطها للسابقين، وآخرها للظالمين.
ويشهد نداء المنادي يوم القيامة ألا ليقم من وجب أجره على الله، فلا يقوم إلا من عفى وأصلح وإذا شهد مع ذلك فوت الأجر بالانتقام والاستيفاء سهل عليه الصبر والعفو.
Tiga bagian yang tersebut di ayat ini maka yang pertamanya bagi orang-orang yang muqtashid, yang tengahnya bagi orang-orang yang sabiqun, dan yang terakhirnya bagi orang-orang yang zhalim. Dan seorang orang yang menyeru akan menyaksikan pada hari kiamat, perhatikanlah hendaklah berdiri orang yang tetap ganjarannya atas Allah, maka tidak ada yang berdiri kecuali orang yang memaafkan dan berbuat baik. Dan apabila dia menyaksikan itu bersamaan dengan penyiksaan dan penyempurnaan akan meluputkan ganjaran maka menjadi mudah atasnya bersabar dan memaafkan.
