![]() |
| Gambar dari Google |
Penulis : Ibnu Taimiyah
Penerjemah : Ust. Nawi
Editor : Hikam Fajri
الرابع: أن يشهد أنه إذا عفى وأحسن أورثه ذلك من سلامة القلب لإخوانه، ونقائه من الغش، والغل، وطلب الانتقام، وإرادة الشر، وحصل له من حلاوة العفو ما يزيد لذته ومنفعته عاجلا وآجلا على المنفعة الحاصلة له بالانتقام أضعافا مضاعفة، ويدخل في قوله تعالى: {وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} فيصير محبوبا لله، ويصير حاله حال من أُخِذَ منه دراهم فَعُوِّضَ عنها ألوفاً من الدنانير، فحينئذ يفرح بما مَنَّ الله عليه أعظم فرحٍ ما يكون.
Keempat : Hendaknya seseorang menyaksikan bahwa apabila dia memaafkan dan berbuat baik maka itu akan mewariskan kepadanya berupa keselamatan hati saudaranya, dan dia bersih dari dendam, dengki, menuntut balas, serta keinginan jahat. Dan dia akan memperoleh dengan sebab itu berupa manisnya memaafkan apa yang melebihi kekezatannya dan (memperoleh) manfaaatnya cepat atau lambat atas manfaat yang terjadi baginya dengan penyiksaan itu (ganjaran) yang berlipat ganda, dan itu masuk pada firmanNya Ta’ala “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali ‘Imran : 134, 148), Maka dia menjadi dicintai Allah, dan keadaannya menjadi seperti keadaan orang yang diambil darinya beberapa dirham lalu diganti darinya seribu dinar, lalu ketika itu dia berbahagia dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya berupa kebahagiaan yang lebih besar dari apa yang terjadi.
الخامس: أن يعلم أنه ما انتقم أحد قط لنفسه إلا أورثه ذلك ذلاً [جده] في نفسه، فإذا عفى أعزه الله. وهذا مما أخبر به الصادق المصدوق حيث يقول: “ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزاً” فالعز الحاصل له بالعفو أحب إليه وأنفع له من العز الحاصل له بالانتقام، فإن هذا عِزٌّ في الظاهر وهو يورث في الباطن ذُلاً، والعفو ذل في الباطن وهو يورث العز باطناً وظاهراً.
Kelima : Hendaknya seseorang mengetahui bahwa tidak pernah seorang pun yang tersiksa jiwanya melainkan itu mewariskan kepadanya kehinaan dalam jiwanya, tapi jika dia memaafkan maka Allah akan memuliakannya. Dan ini termasuk apa yang telah dikabarkan oleh ash Shadiq (yang benar perkataan dan perbuatannya) dan al Mashduq (yang dibenarkan dengan itu) dimana beliau bersabda : “Allah tidak menambah seorang hamba dengan sebab memaafkan melainkan kemuliaan” (HR. Muslim), adapun kemuliaan yang diperoleh dengan sebab memaafkan adalah lebih disukai olehNya dan lebih memberi manfaat baginya daripada kemuliaan yang diperoleh dengan sebab membalas, karena sesungguhnya ini adalah kemuliaan pada lahirnya tapi dia mewariskan kehinaan pada batinnya, sedangkan memaafkan itu kehinaan pada batin tapi dia mewariskan kemuliaan pada lahir dan batin.
